Monday, March 5, 2007
Into Thin Air (sinopsis)
Kisah Tragis Pendakian Everest

“Untuk meraih sukses, Anda harus punya motivasi yang sangat kuat, tetapi jika Anda terlalu termotivasi, Anda berisiko menemui ajal.”

Sinopsis:
Jon Krakauer seorang penulis untuk Majalah Outside yang juga seorang pendaki mendapat kesempatan untuk mendaki Everest. Hal yang dia impi-impikan sejak kecil, tapi pendakiannya kali ini demi tugas kewartawanannya (komersialisasi pendakian everest). Ia bersama tim ekspedisi yang dipimpin oleh Rob Hall: seorang pendaki komersial yang menjadi pemimpin sebuah tim ekspedisi di Everest memulai pendakian dari kaki gunung himalaya. Bersama client yang lain Jon dan Rob menjalankan proses aklimatisasi untuk mempersiapkan fisik mereka dalam menaklukan puncak tertinggi di dunia ini. Didalam pendakian tim dibantu oleh para sherpa dalam mempersiapkan peralatan dan perlengkapan mendaki.


Pada bulan itu banyak juga para tim dan pendaki yang melakukan pendakian ke Everest, tidak sedikit pendaki yang gagal mencapai Everest karena kekurangan persiapan, kondisi fisik yang kurang fit dan terus melemah ditambah lagi penyakit ketinggian. Kecelakaan pun sering menghantui para pendaki. Cuaca hari itu sangat buruk, badai menerpa tim sampai beberapa pendaki pun memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakiannya dan turun kembali ke camp. Jon Krakauer tetap terus mendaki dan berhasil sampai puncak’

Rob Hall pun berhasil menuju puncak namun ia sudah terlambat dari waktu yang ia telah ia tetapkan sebelum pendakian hari itu dilakukan. Ia kemudian menuruni puncak sambil mencari client-clientnya, beberapa client terjebak dalam badai dengan kondisi fisik yang semakin memburuk akibat cuaca dan lamanya mereka berada di ketinggian tersebut.

Para client tersebut meninggal karena semakin lemahnya tubuh mereka dan oksigen yang sudah habis, begitu pula dengan Rob Hall, ia pu meninggal dalam pendakian hari itu karena ia tidak mau turun tetapi meminta orang untuk naik dan menjemput dirinya dan clientnya, tetapi penjemputan tidak dilakukan karena buruknya kondisi cuaca hari itu. Setiap kejadian pendakian ditulis oleh Jon di bukunya dan menjadi berita utama waktu itu.

Reviews:
Sisi baik
Buku yang tebel yang mengisahkan tentang petualangan besar di puncak Everest ini menceritakan perjalanan seseorang dalam menaklukan puncak everest. Jon menulis seluruh kisah sejarah tentang Everest secara mendetail. Sesaat setelah pendakian ia menulis untuk majalah outside namun ada beberapa hal yang menurutnya keliru, dan buku ini memberikan penjelasan “benar”nya.Semua dijelaskan dengan jelas, mule dari sejarah Puncak Everest kok terkenal dengan nama everest bukan Sagarmatha atau dewi langit, dan sejarah-sejarah lain berkenaan dengan Everest..(cocok sebagai buku sejarah kali ya). Setiap tokoh dijelaskan secara detail.



Sisi kurang baik
Tentunya Everest akan memberikan kisah yang sungguh mengesankan, tetapi buku ini moodnya kurang bisa terasa, deskripsi keadaan alamnya kurang kena, tapi untuk penjelasan ini siapa itu siapa mungkin bisa jadi dapet. Tapi penyebutan nama di buku ini menurut ku ga konsisten, kadang nama depannya kadang nama belakangnya yang digunakan, gw pikir beda orang ternyata sama, padahal di buku ini ada banyak orang/lakon yang ada (bisa 50org kali ya).

Akhirnya
Buku ini cocok banget buat yang punya hobby naik gunung, dan pencinta alam. Tapi buat yang ga hobby seperti itu (gw neh) bagus juga untuk tahu seperti apa sisi kehidupan lain atau cara pandang lain akan arti sebuah mimpi dan tujuan. Kalo ada rating jelek banget (1) - bagus banget (5) buku ini gw kasih nilai 3 star star star


Labels:

 
posted by Kian at 8:44 AM | Permalink |


7 Comments:


At March 7, 2007 at 5:29 PM, Anonymous wikan

ambisi manusia untuk menaklukan alam, bertarung dengan kedahsyatan kekuatan alam tersebut, ternyata manusia harus kalah dan mengakui bahwa alam lebih kuat daripadanya meskipun berbekal dengan pengalaman beratus-ratus kali, perbekalan yang lebih dari cukup.

bukan. penaklukan everest seharusnya menjadi penaklukan ego pribadi, untuk lebih menghormati alam dan tanda-tandanya. bukan sekedar ambisi semata untuk meraih puncaknya, namun harus membayar dengan nyawa.

 

At March 8, 2007 at 8:56 AM, Blogger Kian

makasih mas wikan...

iya..aq jg lebih mikir bahwa alam harus dihormati...karena itu berarti kita menghormati Sang Pencipta....hehehehe

makane aq agak gimana kalo diajak naek gunung ato pergi kemana..satu hal yang pasti aq tanya...Sholatnya gimana?...

 

At March 21, 2007 at 3:58 PM, Anonymous Anonymous

buku in ta baca juni 2004.punya masku yang emg maniac gunung.Bagus banget.jadi kangen ke gunung. halah-berasa sering. Padahal baru 2x, Slamet dan Lawu....Keindahan bentukan dan Ciptaan Nya

 

At March 21, 2007 at 4:00 PM, Anonymous imma

hlo kok nama imma ga muncul..karen ag apy blogspot yak, hee..

 

At March 21, 2007 at 4:07 PM, Blogger Kian

hehe..makane mba ima..punya blog dunk..sharing ide..n belajar nulis..

 

At October 15, 2008 at 2:49 PM, Blogger andre

alo mba kian met kenal ya
mau tanya mba dpt buku into thin air dimana ya,saya lagi perlu banget dengan buku ini atau ada temen2 yang mau jual bisa hubungi saya di irawan.andre@gmail.com,saya udah cari dimana-mana blm dapet2 juga,thx ya

 

At December 19, 2008 at 4:46 PM, Anonymous Anonymous

saya suka naik gunung saat masih kuliah. kita biasanya nanjak ber-5. semuanya anak baik2 lho.
saya udah baca buku itu, bahkan versi inggrisnya.
menurut saya terjemahan indonesianya memang kurang bisa mewakili perasaan si penulis melului bahasa inggrisnya.
Tapi, jika yang membaca seorang climber, dia setidaknya bisa membayangkan situasi itu.

aji_GSG